PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN
Perkenalkan nama saya Hadi Setyo Nugroho, Calon Guru Penggerak Angkatan 6 dari SMP Negeri 2 Selomerto Kabupaten Wonosobo. Pendidikan Calon Guru Penggerak membawa perubahan yang sangat besar dalam diri saya terutama dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Di awali oleh modul 1, 2, dan 3 (3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin).
Saya ucapkan terima kasih kepada Fasilitator saya yang selalu membimbing, mengarahkan dan memberikan support kepada saya yaitu Bapak Slamet, M.Pd dan juga kepada Pengajar Praktik saya Ibu Rudiyati, S.Pd.Koneksi Antar Materi Modul 3.1 terkait Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin Pembelajaran dalam bentuk rangkuman kesimpulan pembelajaran yang disusun berdasarkan 14 pertanyaan.
Berikut Rangkuman Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin Pembelajaran berdasarkan 14 buah pertanyaan:
1. Bagaimana filosofi Ki Hadjar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
Jawaban:
Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa terdapat 3 Pratap Triloka yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo (menjadi teladan/inspirasi). Seorang pemimpin (guru) haruslah memberikan teladan yang baik bagi orang yang dipimpinnya. Ing Madyo Mangun Karso (menciptakan prakarsa dan ide), seorang pemimpin (guru) harus bisa bekerja sama dengan teman sejawat dan juga murid. Tut Wuri Handayani (memberi dorongan/semangat), seorang pemimpin (guru) harus bisa menjadi motivator atau pemberi semangat bagi anak didiknya (murid). Sebagai pemimpin pembelajaran tentunya pengambilan keputusan yang diambil adalah keputusan yang tepat berpihak pada murid, sehingga lingkungan belajar yang kondusif, positif, aman, dan nyaman akan memengaruhi pengambilan keputusan.
2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Jawaban:
Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid, ini sangat berpengaruh terhadap prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan. Nilai-nilai tersebut merupakan prinsip yang harus selalu dipegang teguh ketika kita berada dalam posisi yang menuntut kita untuk mengambil keputusan diantara dua pilihan yang secara moral dirasa keduanya benar atau berada dalam situasi dilema etika (benar melawan benar) atau berada dalam dua pilihan antara benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita berpikir secara seksama untuk mengambil keputusan yang tepat.
Adakalanya ketika menghadapi sebuah situasi kita bisa mengambil keputusan secara mandiri namun dalam situasi yang lain perlu kolaboratif melibatkan pihak lain untuk memberikan masukan dan pertimbangan positif. Tentu dengan melibatkan pihak lain akan ada pendapat dari berbagai sudut pandang yang memungkinkan dampak negatif dari keputusan yang diambil dapat diminimalisir sehingga dapat diterima oleh berbagai pihak.
3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul sebelumnya.
Jawaban:
Bagi seorang pemimpin coaching merupakan ketrampilan yang penting untuk bisa menggali suatu masalah yang terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Coaching menggunakan langkah TIRTA (Tujuan, Indemntifikasi, Rencana aksi, Tanggungjawab) menjadikan kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep ini sangat ideal jika dalam penerapannya dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.
4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?
Jawaban:
Sebagai seorang pendidik pada hakekatnya perlu memiliki berbagai keterampilan untuk mendukung tugasnya. Salah satu yang perlu dimiliki adalah aspek sosial emosional. Ada kalanya guru pun mengalami kondisi emosional yang perlu ditenangkan, pada kondisi seperti ini guru perlu melakukan Latihan Kesadaran Penuh (mindfullness) menggunakan teknik STOP dengan mengikuti langkah-langkah yang telah dibahas pada modul sebelumnya. Kemampuan aspek ini akan berpengaruh dalam pengambilan suatu keputusan ketika menghadapi dilema etika dimana ada dua pilihan yang secara moral itu benar namun harus memilih salah satu alternatif keputusan yang tepat, tidak memihak dan menimbulkan efek positif. Apalagi yang namanya dilemma etika biasanya terkait dengan kepentingan orang lain ataupun murid di suatu sekolah sehingga keputusan yang diambil tidak menimbulkan konflik.
5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.
Jawaban:
Sebagai pemimpin pembelajaran, pendidik harus mampu melihat masalah yang dihadapinya, apakah itu dilema etika atau bujukan moral. Pendidik dengan nilai-nilai pendidik yang inovatif, kolaboratif, mandiri, dan reflektif dapat membimbing peserta didik dalam mengambil keputusan dan mengenali potensi dirinya untuk mengatasi tantangan. Melakukan dan bertindak untuk kepentingan murid, menjunjung tinggi prinsip/nilai kita sendiri dan melakukan apa yang kita ingin orang lain lakukan terhadap kita. Ada banyak cara untuk membuat keputusan yang bertanggung jawab: Pertimbangan prinsip dan langkah-langkah untuk membuat dan menguji keputusan dalam kaitannya dengan masalah yang dihadapi. Dan jika masalah tersebut dilema etika atau benar melawan benar maka, guru perlu melakukan pertimbangan terhadap 4 paradigma pengambilan keputusan dan 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan.
6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman?
Jawaban:
Pengambilan keputusan yang tepat tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang kondusif, positif, aman, dan nyaman. Untuk mencapai semua itu diperlukan ada perubahan yang mendasar dan upaya yang konsisten.
Seseorang pemimpin pembelajaran kita seringkali dihadapkan dalam situasi dimana kita diharuskan mengambil suatu keputusan, apabila masalah tadi adalah dilema etika, sebelum membuat sebuah keputusan kita wajib bisa menganalisa pengambilan keputusan berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, sehingga keputusan yg kita ambil bisa membangun lingkungan yg positif, kondusif, kondusif dan nyaman buat muridnya. Intinya pengambilan keputusan yg sempurna terkait masalah dalam bujukan atau dilema etika hanya bisa dicapai bila dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan . Dapat dipastikan bahwa bila pengambilan keputusan dilakukan secara seksama melalui proses analisis perkara yg cermat dan akurat menggunakan 9 langkah tadi, maka keputusan tadi diyakini akan bisa mengakomodasi seluruh kepentingan kepada pihak-pihak yg terlibat , maka hal tadi akan berdampak dalam terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, kondusif dan nyaman.
7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Jawaban:
Menurut saya tantangan yang berat dilingkungan sekolah ketika saya harus mengambil keputusan yang berhubungan dengan hajat hidup seseorang baik itu rekan sejawat apalagi menyangkut kepentingan murid dimana sebagai manusia biasa tentu kita mempunyai rasa kepedulian dan ingin bersikap adil kepada orang lain. Di sisi lain terkadang kita dihadapkan pilihan ketika keputusan tersebut menjadikan salah satu pihak merasa bersalah.
8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?
Jawaban:
Sebagai seorang guru dan pemimpin bahwa dalam pengambilan keputusan tergantung jenis masalahnya. Terkait dengan murid dalam kegiatan pembelajaran semua tergantung kepada keputusan seperti apa yang akan diambil, apabila keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid dalam hal ini tentang metode yang digunakan oleh guru, media dan sistem penilaian yang dilakukan yang sudah sesuai dengan kebutuhan murid, maka hal ini akan dapat memerdekakan murid dalam belajar dan pada akhirnya murid dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya. Dalam hal ini tentu murid dilibatkan dalam proses pembelajara sehingga guru bukanlah satu-satunya sumber belajar.
9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Jawaban:
Sebagai pemimpin pembelajaran keputusan yang kita ambil harus yang memberi kesempatan dan menuntun segala kodrat pada murid dengan murid diberi ruang kebebasan untuk berinovasi dan berkreativitas. Dalam menuntun seorang pendidik memberikan tuntunan dan arahan agar murid tidak keluar dari area sebagai murid, sehingga di masa depan akan terbentuk murid yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkebhinnekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif dalam mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar pancasila.
10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Jawaban:
Kesimpulan yang didapat dari pembelajaran modul 3.1 ini yang dikaitkan dengan modul-modul sebelumnya adalah bahwa pengambilan keputusan merupakan suatu kompetensi yang harus dimiiki oleh guru dengan tetap mengacu filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran. Disamping itu sebagai seorang pemimpin dalam pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif yang dalam penanamannya bisa menggunakan alur BAGJA untuk menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Sehingga keputusan yaang kita ambil setidaknya sudah melalui tahapan yang ada pada modul 3.1 ini
11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Jawaban:
Dalam menjalankan peran sebagai pendidik, tentu seringkali kita menghadapi situasi dimana kita harus mengambil keputusan dimana terdapat nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama memiliki nilai kebenaran, namun saling bertentangan. Namun sesulit apapun keputusan yang akan diambil, sebagai guru paling tidak selalu berpatokan dengan 3 unsur yang berpihak pada murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi dari keputusan yang diambil. Dilema etika sendiri merupakan dua keputusan yang sama-sama benar sedangkan bujukan moral adalah dua keputusan dimasa salah satunya adalah keputusan yang salah. Jadi jelas bahwa dilema etika benar lawan benar sedangkan bujukan moral keputusan yang benar lawan salah.
Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini:
1. Individu lawan kelompok (individual vs community)
2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
Seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran juga dapat menganalisis 3 prinsip atau pendekatan dalam pengambilan keputusan yang memuat unsur dilema etika, serta menilai dirinya memiliki kecenderungan menggunakan prinsip yang mana pada saat pengambilan keputusan. Ketiga prinsip tersebut adalah:
1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Ada 9 tahapaan pengambilan dan pengujian keputusan
1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang salingbertentangan
2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini
3. Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini
4. Pengujian benar atau salah (uji legal, uji regulias, uji instuisi, uji publikasi, uji panutan/idola)
5. Pengujian paradigma benar atau salah
6. Prinsip pengambilan keputusan
7. Investigasi tri lema
8. Buat keputusan
9. Meninjau kembali keputusan dan refleksikan
12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Jawaban:
Sebelum mempelajari modul ini, saya mengalami masalah atau kasus yang berkaitan dengan dilema etika. Keputusan yang saya buat saat itu sering kali didasarkan pada intuisi saya, nilai-nilai saya, dan pertimbangan saya terhadap orang lain. Jadi saat mempelajari modul 3.1, saya merasa bahwa Berpikir Berbasis Rasa Peduli adalah prinsip yang digunakan dalam pengambilan keputusan, terutama yang berkaitan dengan dilema etika.
13. Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Jawaban:
Dampak yang saya rasakan setelah mempelajari modul 3.1 adalah saya menjadi lebih percaya diri dalam mengambil keputusan, terutama sebagai pemimpin pembelajaran dan berupaya menerapkan dengan menganalisis berdasar paradigma, prinsip dan tahapan yang ada pada modul ini.
14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Jawaban:
Sebagai individu maupun sebagai pemimpin untuk mempelajari modul ini begitu penting. Situasi dilemma menjadi nantinya akan kita hadapi dengan mempelajari modul ini kita semakin terasah sehingga sebisa mungkin kita mengambil keputusan yang tepat untuk menghindari konflik lebih lanjut. Tidak lupa musyawarah dengan berbagai pihak yang berkepentingan baik teman sejawat, atasan maupun masyarakat, sehingga keputusan yang kita ambil lebih bijak dan tepat serta diterima semua pihak.
Salam dan bahagia